Minggu(19/10), organisasi Seni Karya Buruh Migran ( Sekar Bumi ) mengadakan acara untuk refreshing dengan mendaki gunung bersama yang diikuti kurang lebih 30 orang anggota Sekar Bumi sendiri. Nah, berangkat dari Island Resort sekitar pukul 10.30, anggota Sekar Bumi nampak asyik dalam menikmati pemandangan yang ada. Setelah menempuh perjalanan kira-kira 40 menit sampailah ke tempat tujuan. Kemudian acara dilanjutkan dengan Apresiasi seni berupa pembacaan puisi, cerpen serta tarian. Di samping untuk refreshing, acara juga bertujuan untuk konsolidasi. Asyik lho....mau nyoba?!
Sunday, October 21, 2007
Hiking bersama Sekar Bumi
Minggu(19/10), organisasi Seni Karya Buruh Migran ( Sekar Bumi ) mengadakan acara untuk refreshing dengan mendaki gunung bersama yang diikuti kurang lebih 30 orang anggota Sekar Bumi sendiri. Nah, berangkat dari Island Resort sekitar pukul 10.30, anggota Sekar Bumi nampak asyik dalam menikmati pemandangan yang ada. Setelah menempuh perjalanan kira-kira 40 menit sampailah ke tempat tujuan. Kemudian acara dilanjutkan dengan Apresiasi seni berupa pembacaan puisi, cerpen serta tarian. Di samping untuk refreshing, acara juga bertujuan untuk konsolidasi. Asyik lho....mau nyoba?!
Halal bihalal a la BMI Hong Kong
Ribuan Buruh Migran Indonesia ( BMI ) Hong Kong bersilaturrahmi dengan kawan dan saudara sepanjang Sabtu(13/10) hingga Minggu(14/10). Sejumlah organisasi BMI juga mengadakan halal bi halal, dari Chai Wan, Causeway Bay hingga Tai Po.
Di Victoria Park, ribuan BMI bahkan nyaris tak menyisakan ruang di lapangan rumput.. Beberapa dari mereka bahkan sudah datang sejak jam 5 pagi.
Sejumlah organisasi BMI, seperti Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia ( ATKI ), Indonesian Migrant Workers Union ( IMWU ), Gabungan Migran Muslim Indonesia ( GAMMI ) dan Sekar Bumi juga menggunakan acara silahturrahmi tersebut sebagai ajang konsolidasi.
ATKI, misalnya, menggelar acara silaturrahmi sekaligus merayakan ulang tahun mereka yang ke-7. Mereka memeriahkannya dengan acara pemilihan Miss ATKI. Berbeda dengan ajang pemilihan Miss yang selalu diwarnai dengan glamour, pemilihan Miss ATKI ini lebih menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan berorganisasi serta tentang hukum perburuhan di Hong Kong. Pemandangan menarikterlihat saat juara I Miss ATKI diraih oleh peserta yang menggunakan potongan Koran SUARA sebagai gaunnya.
Semenatara itu, komunitas Seni Karya Buruh Migran ( Sekar Bumi ) merayakan Idul Fitri dengan menggelar ajang apresiasi seni. Acara diisi dengan pembacaan puisi, cerpen, lagu-lagu buruh mkigran serta tari oleh anggota Sekar Bumi sendiri.
Sedangkan komunitas BMI di Tai Po, memusatkan acara halal bi halal di Toko Abadi dengan menyuguhkan pentas drama spontan. Drama yang berjudul” Pulan Kampung “ tersebut dibawakan oleh anggota komunitas.
Sedangkan di Chai Wan, acara halal bi halaljuga digelar oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia ( KJRI ). Acara diisi dengan hiburan, makan siang bersama serta tauziah oleh Ustadzah Witra Murad.
Sementara IMWU dan Koalisi Organisasi Tenag Kerja Indonesia di Hong Kong ( KOTKIHO ) berencana menggelar halal bi halal lebih besar pad Minggu (21/10) dengan mengundang Ustadz Hadad Alwi.
Aliyah Purwati
Di Victoria Park, ribuan BMI bahkan nyaris tak menyisakan ruang di lapangan rumput.. Beberapa dari mereka bahkan sudah datang sejak jam 5 pagi.
Sejumlah organisasi BMI, seperti Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia ( ATKI ), Indonesian Migrant Workers Union ( IMWU ), Gabungan Migran Muslim Indonesia ( GAMMI ) dan Sekar Bumi juga menggunakan acara silahturrahmi tersebut sebagai ajang konsolidasi.
ATKI, misalnya, menggelar acara silaturrahmi sekaligus merayakan ulang tahun mereka yang ke-7. Mereka memeriahkannya dengan acara pemilihan Miss ATKI. Berbeda dengan ajang pemilihan Miss yang selalu diwarnai dengan glamour, pemilihan Miss ATKI ini lebih menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan berorganisasi serta tentang hukum perburuhan di Hong Kong. Pemandangan menarikterlihat saat juara I Miss ATKI diraih oleh peserta yang menggunakan potongan Koran SUARA sebagai gaunnya.
Semenatara itu, komunitas Seni Karya Buruh Migran ( Sekar Bumi ) merayakan Idul Fitri dengan menggelar ajang apresiasi seni. Acara diisi dengan pembacaan puisi, cerpen, lagu-lagu buruh mkigran serta tari oleh anggota Sekar Bumi sendiri.
Sedangkan komunitas BMI di Tai Po, memusatkan acara halal bi halal di Toko Abadi dengan menyuguhkan pentas drama spontan. Drama yang berjudul” Pulan Kampung “ tersebut dibawakan oleh anggota komunitas.
Sedangkan di Chai Wan, acara halal bi halaljuga digelar oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia ( KJRI ). Acara diisi dengan hiburan, makan siang bersama serta tauziah oleh Ustadzah Witra Murad.
Sementara IMWU dan Koalisi Organisasi Tenag Kerja Indonesia di Hong Kong ( KOTKIHO ) berencana menggelar halal bi halal lebih besar pad Minggu (21/10) dengan mengundang Ustadz Hadad Alwi.
Aliyah Purwati
Pilar dan Gammi bagikan seribu nasi bungkus
Persatuan Buruh Migran Indonesia tolak overcharging ( Pilar ) bersama Gabungan Migran Muslim Indonesia ( GAMMI ) dan Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia ( ATKI ), menggelar acara Renungan Akbar Ramadhan, dengan membagikan lebih dari seribu nasi bungkus kepada BMI di lapangan rumput Victoria Park, pada Minggu ( 30/9 ) lalu.
Menurut Umi Sudarto, Ketua Wanodya ( salah satu anggota Pilar ), acara tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama Buruh Migran Indonesia di Hong Kong.
Di samping itu, acara juga diisi dengan pensosialisasian isu-isu perburuhan di Hong Kong, dengan membuka pangung di lapangan rumput Victoria Park.
“ Kami akan terus mengangkat isu tentang biaya penempatan Agen, tentang pelayanan konsulat serta tentang terminal tiga agar segera ditutup,” ujar BMI asal Purwokerto ini saat ditemui SUARA usai acara.
Pilar menilai bahwa potongan tujuh bulan merupakan bentuk pemerasan bagi BMI. Mereka terus mendesak pemerintah agar menurunkan biaya penempatan Agen hanya satu bulan gaji. Terkait dengan terminal tiga, Pilar juga meminta kepada pemerintah Indonesia agar terminal tiga ditutup. Seperti diketahui, selama ini terminal tiga telah menjadi momok bagi BMI yang pulang mudik, karena BMI hanya dijadikan ajang pemerasan bagi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Acara juga diisi tauziah oleh Ustad Hasan Bisri dari KJRI, serta istighosah bersama.
Aliyah Purwati
Menurut Umi Sudarto, Ketua Wanodya ( salah satu anggota Pilar ), acara tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama Buruh Migran Indonesia di Hong Kong.
Di samping itu, acara juga diisi dengan pensosialisasian isu-isu perburuhan di Hong Kong, dengan membuka pangung di lapangan rumput Victoria Park.
“ Kami akan terus mengangkat isu tentang biaya penempatan Agen, tentang pelayanan konsulat serta tentang terminal tiga agar segera ditutup,” ujar BMI asal Purwokerto ini saat ditemui SUARA usai acara.
Pilar menilai bahwa potongan tujuh bulan merupakan bentuk pemerasan bagi BMI. Mereka terus mendesak pemerintah agar menurunkan biaya penempatan Agen hanya satu bulan gaji. Terkait dengan terminal tiga, Pilar juga meminta kepada pemerintah Indonesia agar terminal tiga ditutup. Seperti diketahui, selama ini terminal tiga telah menjadi momok bagi BMI yang pulang mudik, karena BMI hanya dijadikan ajang pemerasan bagi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Acara juga diisi tauziah oleh Ustad Hasan Bisri dari KJRI, serta istighosah bersama.
Aliyah Purwati
Saturday, October 20, 2007
Biografiku

Nama asli gue sebenere Aliyah Purwati atau biasa dipanggil LYA.Nama Alryza sebenernya special..,he he he….Gue lahir di Rembang ( kota Kartini) 24 tahun silam,ya..udah lama lah gue ikut ngramein dunia ini hi hi hi…gue anak ke dua dari 3 bersaudara.Kakak perempuan satu dan seorang adhek cowok( 9 tahun),dan sampai sekarang masih berdomisili di Rembang juga.Masa-masa kecil gue sangatlah mengasyikan dan lucu banget.Maklum aja gue dulu nakal dan bandelnya minta ampun hi hi hi..sampek sekarang juga masih bandel kok ……..he he he….Ceritanya tuh kayak gini……Tahun 1888 gue duduk di bangku kelas 1 SD,tanpa TK dulu.soalnya dulu pas gue liat temen-temen pada sekolah ,gue mah main ikut aja.Padahal masih BEGO nya minta ampun.Tapi gue cuek aja…Nah..dari kecil tuh orang-orang di sekitar gue pada bilang kalo gue nakal,bandel,cerewet dsb( dan saya bingung ).sejak kecil gue udah senen bergaul ma anak2 cowok seumuran gue.Nggak tahu knpa.Kayaknya syik banget temenan ma cowok ketimbang cewek he he he….Nah….waktu kelas 1 ma kelas 2 SD gue GOBLOG nya minta ampun.udah GOBLOG nakal lagi,hidup lagi….hua ha ha…Karna gue suka mukulin anak orang he he he..aduh jadi malu nih…Kalo inget aja gue pengen ketawa sendiri.Nah..pernah ada satu kejadian waktu kelas 2 ,pulang sekolah gue in ma temen2.waktu itu kita main loncat-loncatan.Nah….temen2 gue semuanya pada bisa melompat.Cuma gue doang yang nggak bisa .Kontan aja gue marah.”knpa mereka bisa dan gue nggak”.pikir gue waktu itu.Tanpa pikir panjang lagi,gue langsung ndorong salah satu temen main gue,sampai dia jatuh dalam GOT dan kepalanya berdarah semua.Nah..dari situ orang2 sekampung gue pada rame banget.Ironisnya lagi…..nyokap temen gue yang gue dorong tadi,nuntut ma nyokap gue untuk ngebiayain pengobatannya itu.Nyokap gue juga nggak bisa berbuat apa-apa.Karna gue yang salah kok,and mau nggak mau kudu bayarin pengobatan temen gue tadi.Abis itu….nyokap gue mukulin gue abis-abisan.Tapi heranya ..esok harinya ya..ya kayak gitu lagi,nggak kapok-kapok gue tuh he he he….Kelas 1 ma kelas 2 pokoknya gue parah2nya…males ,nakal dan…..Nah..kelas 3 SD ,gue mengalami peningkatan drastis.Udah mulai tahu malu dan nilai-nilai gue di sekolah juga naik drastis.Kelas 3 itu pula gue gencar-gencarnya seneng banget nyanyi.Waktu kelas 1 sih udah seneng,tapi paling juga naynyi kamar mandi he he he..Tapi kelas 3 SD gue dah mulai berani nyanyni di depan temen2 sekolah gue,sambil nge gaya he he he….dulu aja kalo Bu guru bulang”siapa anak2 yang berani nnyanyi di depan?” gue pasti anak pertama yang mengacungkan jari he he he…dulu gue suka banget ma lagu anak2.Nah..lagu kenangan gue yang gue nyanyiin adalah “SEMUT-SEMUT KECIL” punyanya MELISSA. Pada tahu kan..hi hi hi..aduh gue jadi malu nih…Kelas 4 SD,gue mulai ikut ajang perlombaan.Waktu itu lomba baca puisi biasanya.Pertama kali gue menang tingkat kecamatan.Terus maju ke tingkat kabupaten.Dan gue menang se Kabupaten Rembang tahun 1992.Wah..seneng banget..terus bisa mewakili kabupaten untuk maju ke tingkat karisidenan.Nah ..di situ gue ada pengalaman lucu.ceritanya gini..Waktu gue menang se Kab-Rembang,ada seorang wartawan yang ingin mewancarai gue.Nah..gue apnik banget waktu itu.Maklum aja gue masih polos banget kan dulu nya he he he….Terus….Bu Guru yang membimbing gue bilang gini”kalo nanti wartawannya nanya kamu,cita-citanya pengen jadi apa,kamu jawab saja pengen jadi GURU.”begitu kata Bu Guru Gue waktu itu.terus gue nanya ma Bu Guru”Lho Buk..kenapa mesti pengen jadi guru?”gue bertanya layaknya orang BEGO he he he…”Lho..kalo nggak ada guru kan nggak bakalan ada Presiden,nggak bakal ada Polisi dan lain2..”jawb Bu Guru.terus gue mikir iya juga ya..hi hi hi….Ya udah waktu wartawan dateng wawancara dan nanya soal cita2,gue jawab pengen jadi GURU beneran….sampek wartawan nya ngaka,waktu gue jelasin alasannya…..selang beberapa hari ternyata dari hasil wawancara tadi gue masuk ajdi profil majalah JAYABAYA tahun 1992.Aduh..semua pada rame waktu gue masuk majalah ..he he he..maklum aja deh…..pengalaman pertama…Seneng banget deh pokoknya..udah gitu kalo abis lomba gitu,pasti ada hadiah dari sekolah..baju-baju bagus,sepatu..dan lainya..sampek temen2 gue di sekolah pada ngiri…tapi..waktu belajar tersita juga sih..karna kalo pas mau hari H gitu..pasti latihan sana sini…tapi gue enjoy aja,dan hal itu nggak ngganggu aktifitas gue di sekolah…Dalam tahun yang sama,gue mulai diajari untuk ngikut lomba-lomba nyanyi ma Bu Guru di sekolah.Waktu itu kelas 5 SD.pengalaman pertama ikut lomba nyanyi waktu DASA WARSA sekolah kakak gue di SLTP N 1 sumber Rembang.Ternyata lawan2 gue kebanyakan anak2 SLTP ,yang anak SD bisa diitung.lagu kenangan gue yaitu”MUTIARA YANG HILANG” lagu nostsalgia itu lho..nah ada pengalaman lucu juga nih..gini waktu gue naik ke atas pentas..gue kan grogi banget..maklum aja pengalaman pertama he he he..nah…waktu mau nyanyi…gue bingung ..pas masuk suara gue udah nyanyai satu baris..tapi gue heran..kok nggak bunyi2.Ternyata MIX n ya belom gue on in.aduh..malu gue..gue tenga sana tengok sini….wajah gue kayak udang rebus kali ye…untung Cuma bentar….Dari hasil lomba..gue bener2 nggak nyangka…kalo dari lawan2 gue yang rata2 anak 2 SLTP,ternyata gue menang juara 1.aduh…gue sampek loncat2 saking senengnya..Waduh..Bu Guru gue sampek nyiumin gue abis2an..katanya bangga he he he….dapet hadiah juga deh….orang bilang dulu waktu kecil gue tuh kecil,mungil,imut2,lucu dan centil he he he…..apalagi ortu gue ..huh..senengnya minta ampun .Nah..dari situ gue mulai PD nyanyi..dan nekunin.Tahun 1994 gue lulus SD dan mulai duduk di bangku SLTP(SLTP N 1 Sumber,Rembang).Cawu pertama gue dapet ranking satu parallel,dan dapet beasiswa sekolah selama satu tahun .seneng juga sih..bisa ngringanin beban ortu.he he he….gue tetep sama bandel,nakal,cerewet nggak pernah ilang dari dalam diri gue…gue akalin dulu.kalo di depan orang banyak gue ngak pernah belajar.Tapi kalo sendirian baru gue pegang buku.Biar dibilang……makanya orang dan temen2 pada bilang katnya gue nggak pernah pegang buku tapi kok..lumayan pinter he he he….kok jadi sombong nih gue..nggak de ng..Cuma nginget 2 masa2 itu aja kok….padahal mereka nggak ngerti kalo malem mau ulangan harian gue wayangan ..semalem nggak tidur di depan buku.kayak KUTU BUKU kali ya..hua ha ha ha…..Kelas 2 SLTP gue parah2 nya jadi supercerewet.guru2 gue aja sampek geleng2 kalo liat ulah tingkah gue…sama jug ague lebih seneng temenan ma COWOK ketimbang CEWEK….tahu knpa ya…kayaknya asyik banget gitu lho temenan ma COWOK..biasanya COWOK kan lebih bisa nyimpen rahasia dari pada CEWEK yang suka NGEMBER kali ye he he he……temen2 yang main ke rumah gue aja rata2 COWOK semua .sampek kadang diomelin nyokap…dikirain ada papa gitu he he he..tapi gue cuek aja….emang gue pikirin ..toh yang penting gue nggak ngapa2in aja kok….Nah..kelas 2 SLTP gue mulai kenal ma mahluk yang namanya “COWOK CAKEP “he he he he…..tambah centil he he he….lucuuuuu banget ..ya…namanya juga cinta monyet…..hi hi hi..tapi rasanya jadi semangant banget sekolahnya..kelas 2 SLTP gue udah aktif di OSIS….seru juga sih…..dari cinta monyet itu,sayang banget nggak kesampeian ..sama2 malu hi hi hi..Kelas 3 SLTP gue malah makin parah..suka telat sekolah mulai..tapi gue anti banget ma yang namanya BOLOS.biarpun gue anaknya super bandel.Tapi alkhamdulillah nggak mempengaruhi pelajaran gue di sekolah..Tahun 1997 gue lulus SLTP ,resmi jadi penduduk SMA.huh..nakal2 nya gue waktu itu.temenan aja kalo nggak cakep dan kaya gue nngak malu….he he he..dulu sih..tapi sekarang mah nggak lagi ..hi hi hi….temen2 gue masih tetep sama COWOK.di situ gue terkenal banget sebangai anak yang nakal,cerewet,bandel dan suka ngerjain orang,tapi pinter (ya..pinter ngerjain orang itu tadi h ehe he)…Tapi kelas 1 SMA gue udah aktif di OSIS ..ya…Anehnya lagi ,,,,semua penghuni sekolah gue udah pada tahu kalo gue kayak gitu ..eh..pas pemilihan KETUA OSIS kelas 2 kok malah gue yang dicalonin.gue ngakak aja…”Orang kayak gue kok,dicalonin,ntar kalo jadi beneran,anak buahnya kayak apa?’celetuk gue waktu itu. Eh..guru2 ma temen2 gue malah pada bilang katanya biar gue TOBAT.kalo jadi pemimpin kan otomatis kudu bisa jadi contoh .he he he..saat PEMILU di sekolah..gue mah nyantai2 aja.kalo nggak jadi malah kebeneran kok.Pas penghitunag suara temen gue yang paling dapet saura terbanyak.tapi bagian belakang kok..nama gue yang disebut2..gue panic banget waktu itu.takut jadi ketua OSIS beneran dan nggak bisa bebas lagi kayak kemaren2 hi hi hi…..Nah..setelah semua kelar..ternyata suara terbanyak adalah gue..”Aduh ….mampus gue..”celetuk gue saat tahu kalo gue bener2 jadi seorang ketua OSIS.karna dukungan dari temen2 juga banyak banget ternyata.Sejak itu gue mulai latihan tanggung jawab.Udah gitu Pembina OSIS gue KILER nya setengah mati,nggak pernah ada kecocokan ma gue..adanya Cuma berantem tiap hari..sampek satu sekoalh itu tahu semua kalo gue nggak begitu akur ma Pembina OSIS.Pokoknya dia tuh suka nyari2 kesalahan gue .Kalo misalnya bikinproposal2 kegiatan aja ,mesti dipersulit.tapi gue anaknya emang bandel..ya..gue biarin aja…Nah..pada saat yang bersamaan,sekolah gue dapet kesempatan untuk ikut penataran pengurus OSIS se Jawa Tengah tahun 1998 di GOR Jati Diri Semarang.gue ma sekretaris yang ikut bersama 2 sekolah lain di Rembang.Wah..seru abis deh…soalnya kan anak2 pilihan semua .udah gitu cakep2 lagi..he he he..aduh jadi malu nih kalo inget nya…waktu itu penataranya selama 5 hari.jadi ya…lumayan lah..buat cuci mata he he he he…banyak banget yang gue dapet dari situ…..tambah banyak pengalaman deh pokoknya…udah gitu kalo waktunya makan….gue ma temen2 dari sekolah2 lain mesti sukanya duduknya bersebelahan ma anak COWOK hua ha ha..bukanya cari2 perhatian sih..Cuma ya..itu tadi gue lebih seneng ma anak COWOK..asyik aja gitu…Pada kelas yang sama(kelas 2) gue ikut juga saka Bhayangkara di Rembang,tiap min ggu sore..huh….funky abis…ma polisi2 muda he he he….yang jadi Pembina…..gue nakal banget tuh…suka ngerjain kakak Pembina ma kakak BANTARA yang udah senior.pernah juga pas abis lebaran di pantai taman Kartini Rembang kan rame banget tuh..ya udah dari pada nganggur gue ngikut aja ma temen2 saka COWOK jadi tukang parker selama 3 hari..hasilnya lumayan juga sih….tapi menurut gue bukan soal hasilnya dapet berapa.tapi buat gue ada kepuasan batihn tersendiri lah he he he..pokoknya nggak bakalan lupa deh masa2 itu…..udah gitu sering lagi ikut ngadirin seminar2.he he he..kayak orang penting aja nih….hi hi hi….Nah..parahnya pas gue jadi ketua OSIS,waktu ada pertandingan2.mesti orang sekampung sekolana gue ajak semua.naek motor ngebut2an…temen2 gue pada bilang katanya”tenang aja ada ketua kita di sini”apa nggak parah tuh….abis pertandingan temen2 gue ,gue larang untuk cepet2 pulang.mesti gue ajak ngeluyur sana sini..buntut2 nya ya..pulang malem..kadang gue suka diomelin ma nyokap..tapi…gue paling2 Cuma nyengir doang….hua ha ha ha…pokoknya hari2 gue aktu itu ceria terus deh..ornag guru2 gue di sekolah aja pada bilang katanya gue nggak pernah susah….pada hal mereka nggak ngerti kalo hati gue saat itu lagi remuk di dalem…tapi gue pinter nyembunyiin nya h ehe he…biarpun susah payah ,tapi alkhamdulillah gue bisa ngelarin tanggung jawab setahun selama gue jabat jadi KETUA OSIS .Nah..akhir kelas 2, sekolah gue kedatengan guru2 cakep dan keren banget deh.Apalagi guru FISIKA nya yang dari SMU 3 Semarang..wah…bahenol and sexi abis deh..udah gitu pinter lagi..sejak saat itu gue jatuh cinta banget ma yang namanya pelajaran FISIKA,bahkan sampek sekarang gue masih seneng kok he he he he….Guru kedua yang cakep adalah guru tata Negara ma sejarah..aduh..,orang TASIK MALAYA..ganteng abis….tapi sayang dah punya bini ma anak bo’yaaa…nggak jadi nge LIMIT deh hua ha ha kachian deh gue he he he…..tapi nggak papa ,Cuma buat tambah semangat belajar aja kok.sebenere pas kenaikan dan tujuan penjurusan gue pengen ke IPS aja,biar bisa deket ma guru cakep tadi..tapi sayang keputusna para guru ,gue mesti masuk ke IPA.Paling gue ketemunya Cuma 2 jam pelajaran seminggu,karna Cuma pelajaran sejarah aja dia masuk kelas 3 IPA.tapi ..gitu aja gue udah seneng banget kok.rasanya semangat kayaknya.apalagi kalo mo ulangan ..wah…belajarnaya rajinnyaaaa..minta ampun abis kan maulu ma guru cakep..kalo hasil ulangan kita jelek he he he.makanya tiap abis ulangan sejarah mesti hasilnya 10 hua ha ha…biasalah……Nah….sekitar pertengahan kelas 3 SMA aada lomba sayembara mengarang tingkat nasional..gue manfaatin aja ma temen gue.main ikut aja ,kebetulan yang jadi guru pembimbingnya kan guru cakep tadi..biar deket2 ma beliau gitu deh..he he he….ya dah..gue ma temen gue nekad ikut…pura2 aja nanya ini ,nanya itu,padahal mah nggak aa masalah apa2 hua ha aha..ya..cari2..gitu deh….dan gue sama sekali ngak ada harapan untuk menang.soalnya kan tingkat nasional..kayaknya impossible bvanget deh…ya dah ..akhir agustus naskah gue kirim ma temen via pos.seneng banget atuh…he he he…Gue pikir juga udah berlalu gitu….eeeh….bulan November awal,kok malah gue dapet pangagilan dari Jakarta katanya naskah karangan gue masuk nominasi 6 besar se Indonesia.gue kaget bnegt waktu dipanggil kepala sekolah..”Apa gue ngimpi ya?” pikir gue.tapi gue diem aja ,nggak ngasih tahu temen2 di kelas.Eh..lama2 mereka pada denger sendiri sampek satu sekolah tahu semua.Aakhirnya sekitar tanggal 7 november gue ma gueru cakep gue berangkat ke Jakarta untuk final presentasi lomba.DUuuhh..temen2 gue sampek pada ngiri gara2 gue jalan baerng ma guru cakep..he he he he…..Naek bis ke semarang,nah..ada yang lucu nih..kalo guru cakep gue tidur,gue yang njagain,..nah..gue mah manfaatin aja selagi orangnya lagi tidur.gue pandangin abis2an tuh wajah MACHO hi hi hi….nginep di semarang semalem,karna dapet tiket keretanya pagi buta.keesokan harinya kita meluncur ke Jakarta..eh..ternyata malah diajak nginep ke tempat nyokap bokap nya dulu di JATIBENING BEKASI he he he..duh..senengnya ngak ketulungan deh….gue nggak bisa konsen ma materi buat presentasi lomba malah cengar cengir sndiri,kalo inget.pagi hariPagi harinya kita ke gedung pendidikan nasional Jakarta untuk daftar ulang.dan ternyata gue dapet nomer undi 5 dari 6 peserta final lomba.abis di situ gue ketemu ma finalis2 lain..aduh..gue DOWN banget..soalnya dari penampilan mereka ,kayaknya pe de banget gitu he he he..sedangkan gue apa lah..hi hi hi…abis itu kita nginep di hotel sekitar DEPDIKNAS Jakarta situ.walah2..temen2 kenalan gue yang ngeliat guru cakep gue malah cekaka cekikik di kamar mlulu.bukannya bahs soal materi yang akan di presentasikan besok..eh..malah bahs guru gue yang cakep itu he he he..jadinya ya..malam hari H yang seharusnya buat persiapan final lomba ,kita gunakan untuk ngerumpi sana sini.waktu itu gue satu kamar ma anak2 Jogja.dan kebetulan waktu itu yang jadi finalis dari Jawa semua..Jawa Tengah 3(gue ma temen gue cowok dari SMU2 Semarang,ma yang satu lagi temen gue cewek dari SMU2 Brebes),2 orang dari Yogyakarta,masing2 cewek cowok dan yang teraklhir dari Jawa Timur(SMU 2 Lamongan).Pas hari H..aduh tegang banget gue…gmn nggak tegang..tingkat nasional ..terus ngadepin orang2 pinter ok.peserta diskusinya ternyata anak2 pelajar pilihan Jakarta(SMULab School dll)terus yang jadi dewan juri udah proffesor2 semua.Nah…sistemnya kita presentasi dulu tentang naskah karangan kita.istilahnya ya…kita mesti bias mempertanggungjawabkan isi naskah yang kita bikin itu.abis itu acara diskusi.jadi audiens berhak untuk melemparkan pertanyaan apa aja ma kita..jadi ya..di depan kita bias nggak bisa kudu ngomong dan jawab semua pertanyaan.kayak dibantai pertanyaan gitu deh he he he he…Nah..ada hal unik yang gue lakuin saat gue presentasi….Gue kan grogi banget kalo diliat ma guru cakep gue saat presentasi ..ya udah ..guru cakep gue ,gue suruh keluas saat gue presentasi,dengan alas an grogi..hi hi hi..guru cakep gue Cuma njitak kepala gue aja…katanya kok ada2 aja he he he…kagetnya lagi ternyata para peserta final lomba udah nyiapin alat2 bantu untuk mempermudah jalanya presentasi.kayak kertas2 transparanbuat OHP dan lain2 .sedangkan gue Cuma modal mulut dioang.tapi gue coba cuek aja he hehehe….Yang lebih lucu lagi..moderator gue yang dardi SMU 5 Jakarta saat berlangsungnya diskusi malah ngajakin gue ngobrol mlulu .pada hal di depan umum ..gue rasanya pengen ketawa,kayak mimpi deh gue waktu itu….setelah final lomba berakhir kita istirahat untuk liat pameran di alntai bawah sembari nunggu keputusan dewan juri.ya..kita foto2 terus tuker2 pengalaman ma pelajar2 jakarta.seru juga sih…Abis itu hasil lomba pun diumumin.Wah..deg2an nya minta ampun…malu juga kalo sampek dapet nomer terakhir,biarpun dari pihak sekolahan gue ngak nuntut untuk menang.waktu itu diumumin dari belakang ..kok bukan gue ..gue dikit lega..paling nggak jangan sampek dapet juara bontot deh eh eh ehe…juara hatrapan 2 bukan gue..aduh..tambah mau copot nih jantung he he he…juara harapan 1 juga bukan gue..wah…perasan gue nggak bisa dikatain lagi deh..berarti gue masuk 3 besar…ternyata bener dugaan gue..gue dapet juara 3 .wah..spontan gue netesin air mata..karna bener2 nggak nyangka.guru cakep gue aja sampek nangis karna saking senengnya…apalagi yang nyerahin hadiah piala dan segala macemnya bagi juara 3 besar adalah mentri pendidikan nasional (Bp.Yahya Muhaimin waktu itu ,tahun 1999).aduh..kayak mimpi deh.Bangga juga sih berkesempatan untuk jabat tangan ma bapak mentri he he eh heAbis itu kita nginep lagi di Jati Bening ,terus baru pulang ke Rembang.Semua pada rame ngomongin gue..aduh..gue jadi malu he he he…Tahun 2000 gue lulus SMA .umur gue waktu itu 17 tahun..jadi belom usia kerja..pertama gue nyoba ikut tes masuk kuliah di STIS(Sekolah Tinggi Ilmu Statistik).tapi nggak keterima.akhirnya nyoba nyari kerja sana sini..dari ujung timur smpek ujung kulon..tapi ngnak ada keterima.karna usia gue amsih 17 tahun.nyari sana sini nggak dapet2 akhirnya maret 2001 gue masuk ke PJTKI Semarang..mendekam kurang lebih 8 bulan akhirnya berangkat juga tepatnya November 2001 .ya..itulah gue terdampar di Hong Kong sampwk sekarang…gue Cuma pengan ngraih cita2 gue ma nyenengin ortu gue.gue pengen mereka masa tua mereka dengan baik itu aja…byeeeeeeee……Demikian sekilas Biografi dari seorang wartawan BODREX untuk http://alryza.blogspot.com
Pokoknya pesen gue say no to "DRUG and FREE SEX" OK?!

Pokoknya pesen gue say no to "DRUG and FREE SEX" OK?!
Friday, October 19, 2007
KUTIL
Udara yang panas dan pengap benar-benar membuatku mandi keringat. Belum lagi pekerjaanku yang kian menumpuk layaknya gunung. Ya, panasnya Hong Kong memang sungguh menyengat. Sampai-sampai banyak orang bilang, panasnya Hong Kong tidak jauh beda dengan panasnya neraka. Ah persyetan dengan semua itu. Toh panas atau pun tidak, aku tetap harus bekerja pada majikan.
Tidak seperti biasanya juga, menu masakanku sore itu lebih banyak. Maklum saja saudara-saudara majikan perempuanku mau datang dan makan bersama. Kalau hari-hari biasa, paling aku hanya memasak dua macam lauk dan sup. Tapi kali ini aku harus memasak lima macam lauk beserta pou dhong. Majikanku sendiri telah belanja siang tadi. Dan setiap hari memang dia sendiri yang ke pasar belanja. Karena dia memang tidak bekerja. Jadi kerjaannya hanya di rumah mengurus anak. Majikanku mempunyai dua anak kembar perempuan berumur sembilan tahun. Namanya Grace Lam dan Janet Lam. Keduanya sangat lucu, cantik, pintar dan sopan. Kontan saja aku sangat betah bekerja di situ. Majikanku pun tergolong tidak cerewet dan tidak bawel. Hanya saja sayangnya, aku tidak diijinkan untuk beribadah sholat. Tapi aku sendiri menyadari, namanya manusia tidak ada yang sempurna. Ada majikan yang cerewet, tapi mengijinkan pembantunya beribadah sholat. Dan begitu juga sebaliknya.
Udara makin panas. Sekitar setengah lima sore aku mulai merendam sayur, mencuci ikan, daging serta pou dhong apel, jagung dan wortel kesukaan majikanku. Aku bekerja supercepat, dan mungkin seperti mesin, karena kuatir kerjaanku tidak beres. Bagaimana tidak, seterikaanku di ruang tengah juga masih numpuk belum tersentuh sama sekali.
Aku masih asyik memotong daging babi. Keringat terus mengucur deras dari tubuhku.
“Aauwww…” aku menjerit seketika, seraya darah segar keluar dari jemariku. Aku pun segera menghentikan aktivitas memotong daging.
“Ale, kenapa tangan kamu?” suara majikanku benar-benar mengagetkan aku. Rupanya sudah dari tadi majikanku berdiri di belakangku tanpa sepengetahuanku.
“Oh, tidak apa-apa Nyonya. Hanya luka kecil saja kok, nanti juga sembuh dengan sendirinya,” aku mencoba meyakinkan majikanku bahwa luka yang kualami bukanlah luka yang serius. Tak lama kemudian, majikanku pun menyuruhku keluar dari dapur dan segera mengobati lukaku.
“Ale, kenapa di jarimu ada benjolan seperti ini?” Majikanku bertanya sambil mengerutkan dahi. Dari raut wajahnya, nampak sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan luka di jariku. Dia menganggap luka di jariku adalah luka yang sangat serius. Nada pertanyaannya seperti seorang Polisi yang melakukan penyelidikan saja. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Ada perasaan khawatir juga melihat mimik wajah sang majikanku seperti itu. Pikiran tidak enak mulai menggelayuti pikiranku, menari-nari dalam otakku. Membuatku semakin resah dan gelisah. Aku pun jadi salah tingkah di depan perempuan yang memberiku dollar setiap bulan itu.
“Ale?” panggilan majikanku kembali mengagetkan aku.
“I…iya Nyonya,” aku menjawab dengan gugup.
“Kenapa di jarimu ada benjolan seperti ini?” majikanku bertanya lagi. Kali ini dengan nada sangat penasaran. Aku terdiam sejenak. Hingga akhirnya aku beranikan untuk bicara yang sesungguhnya pada majikanku.
“Oh… ini hanya luka biasa kok Nyonya. Kalau orang Indonesia menyebutnya kutil. Namun tidak berbahaya kok Nyonya. Nanti akan sembuh dengan sendirinya,” lagi-lagi aku meyakinkan majikanku. Ya, benjolan yang ada di jariku memang kutil. Begitu orang Jawa menyebutnya. Jika kutil menempel di jari kita, memang terasa keras. Warnanya putih dan agak-agak transparan. Jika terluka, maka kutil itu akan pecah dengan sendirinya dan mengeluarkan darah. Setidaknya, itulah yang aku alami.
Lama aku dan majikanku terdiam. Aku melihat dahi majikan perempuanku semakin berkerut. Ia kembali diam.
“Ale…sepertinya ada yang tidak wajar dengan benjolan di jarimu. Besok pagi kita ke dokter untuk memeriksakan tanganmu itu,” kata majikanku serius.
Lagi-lagi majikanku terdiam. Aku semakin panik dalam hati. Karena majikanku benar-benar menganggap kutil di jariku adalah sesuatu yang serius. Ya, begitulah orang Hong Kong. Mereka mudah sekali panik dengan gejala penyakit sekecil apapun. Jika anak kesayangannya saja sudah mulai bersin-bersin, ia langsung membawanya ke dokter.
Apalagi ia yang melihat tanganku luka dan berdarah.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku di dapur. Aku tak tenang. Tiba-tiba saja aku selalu berpikir. Kalau-kalau majikanku menganggap luka sepele alias kutil di jariku adalah penyakit menular, dan akhirnya majikanku memecat aku sebagai pembantu rumah tangga. Ah, matilah aku. Aku hanya bisa pasrah sambil menghibur diriku sendiri.
******
Keesokan harinya, majikanku menepati janji. Pagi itu sekitar jam sepuluh, majikanku mengantarku ke dokter, yang letaknya tidak jauh dari rumah di mana aku bekerja.
Aku menarik nafas lega, karena ternyata tidak begitu banyak pasien yang hendak berobat, sehingga aku tidak perlu lama-lama antri. Aku hanya menunggu 2 orang pasien saja. Keduanya orang Hong Kong. Tak lama kemudian, salah seorang suster di Klinik itu memanggil namaku. Akupun segera masuk ke ruang dokter untuk periksa. Aku tersenyum pada majikanku. Majikanku membalas senyumanku dengan manis.
Setelah kira-kira 10 menit dokter memeriksa tanganku, aku segera keluar dari ruangan itu. Aku tidak menemukan ada gejala aneh pada dokter saat memeriksa tanganku. Semuanya biasa-biasa saja. Setidaknya membuatku sedikit lega. Aku kembali duduk di lobby, kembali bersebelahan dengan majikanku.
Namun tak lama kemudian, tiba-tiba dokter yang memeriksa aku memanggil majikanku. Majikanku pun masuk ke ruang periksa menemui dokter.
“Ada apa ya?” seribu pertanyaan terus menari dalam otakku. Sungguh membuat aku gelisah. Duduk pun tak tenang. Tubuhku terus saja bergeser ke kanan dan ke kiri. Kedua tanganku pun terus bergerak meremas-remas. Aku benar-benar resah.
Beberapa saat kemudian, majikanku keluar. Aku menemukan ada yang aneh pada diri majikanku, setelah ia keluar dari ruangan dokter.
******
“Ale, ayo kita pulang,” ajak majikanku.
Aku tidak bisa menahan diri. Aku langsung melemparkan pertanyaan pada majikanku.
“Nyonya, dokter tadi bilang apa? Apakah berhubungan dengan benjolan di jariku?”
Aku membrondong majikanku dengan berbagai pertanyaan. Aku makin tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiranku.
“Nanti saja kalau sudah sampai di rumah aku jelaskan,” jawaban majikanku membuat jantungku serasa mau copot. Aku langsung bisa menebak pasti ada yang tidak beres.
Beberapa menit kemudian, aku dan majikanku pun sampai di rumah. Aku sudah tidak sabar ingin tahu hal yang sebenarnya. Aku melihat wajah majikanku pun mulai menggambarkan suatu kecemasan. Kami sama-sama diam sejenak. Hingga akhirnya, majikanku membuka pembicaraan.
“Ale?” majikanku memanggilku pelan.
“ Aku tahu kamu suka bekerja di sini. Aku juga sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. Tapi begini…” tiba-tiba majikankiu berhenti bicara. Jantungku berdegup kencang. Aku semakin yakin bahwa sesuatu hal buruk bakalan terjadi. Aku bisa menebak dari kata-kata serta cara bicara majikanku.
“Tapi apa Nyonya? Cepat bicaralah. Ada apa sebenarnya?” tak terasa tanganku mengoyak-oyak tangan dan badan majikanku.
“Ehm...dokter bilang, kalau benjolan di jarimu tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Karena kalau nanti membesar sedikit saja, akan mengeluarkan darah. Dan itu sangat berbahaya, bahkan mungkin bisa menular,” kata majikanku panjang lebar.
“Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin…” hatiku serasa disambar petir mendengar kata-kata itu. Dari nada omongannya, aku bisa menebak arah pembicaraan majikanku selanjutnya. Tanpa sadar, hujan air mata membasahi pipiku. Majikanku sempat menenangkan dan menepuk pundakku, ketika mengatakan bahwa aku harus pergi dan berhenti bekerja. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau hal sekecil itu bisa menjadi besar. Aku juga tak mengerti, kenapa semua terjadi ketika aku sedang senang-senangnya bekerja di situ. Baru sembilan bulan aku bekerja di situ dan uang limaribu Dollar Hong Kong pun telah melayang ke tangan Agen saat aku renew kontrak.
“Ya Tuhan…aku diterminit.Aku harus mulai dari nol lagi. Bagaimana caranya agar aku mendapat majikan, sedangkan perpanjangan visaku hanya dua minggu. Kalau pun dapat, aku harus kerja bakti lagi untuk Agen untuk kontrak kerja baruku. Kalau misalkan tidak dapat majikan, aku harus pulang ke kampung halamanku. Apa yang aku bawa. Sementara hasil kerjaku 2 tahun telah aku kirimkan unntuk orang tua ku semua. Bagaimana masa depanku nanti?” seribu pertanyaan itu selalu menghantui pikiranku dan menyesakkan dadaku.
Keesokan harinya, aku bekerja seperti biasa. Walaupun ada rasa sangat tidak enak dalam hatiku. Namun aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.
“ Ale,” suara majikanku lirih memanggilku.
“ Selamat pagi, Nyonya,” sapaku pada sang majikan.
“ Pagi juga, Ale. Hari ini kamu boleh libur,” perintah majikanku.
“Tapi hari ini Jum’at, Nyonya,” jawabku. Tapi majikanku tetap ngengkel menyuruh aku libur agar mulai bisa mencari majikan di Agen. Aku nurut saja pada majikanku, karena aku memang tidak mempunyai waktu banyak. Dalam hatiku bertanya-tanya, kok majikanku memberiku libur pas hari Jum’at. Aku sempat tertegun dan ingat karena uang gaji bulan kemarin sudah aku kirim semua. Di dompetku hanya tersisa dua puluh dollar saja, tapi aku pun tetap nekad libur ke Agen.
******
“Ale, bagaimana dengan benjolan di jarimu?” tanya Mami (yang punya Agen) padaku. Tanpa menjawab, aku langsung menunjukkan jari tanganku pada Mami.
“Oh my God,” mata Mami melotot seraya keheranan.
“Cuma sepele seperti ini, kamu diterminate?” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum, tanpa banyak komentar. Karena aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Namun nasib baik pun belum juga berpihak padaku. Ternyata Agen ku lagi sepi majikan yang mencari pembantu. Sore hari aku pulang dengan perasaan hampa.
”Krukuk ..krukuk..” tiba-tiba perutku bunyi. Namun aku hanya bisa menahan lapar, karena di dompetku hanya tersisa uang duabelas dollar untuk ongkos pulang. Aku serasa menangis batin dalam keadaan seperti itu. Ketika sampai di depan MTR Tsim Sha Tsui Exit B, yang letaknya tak jauh dari Agenku. Aku tertegun dan menghela nafas dalam-dalam, ketika mataku menatap lepas ke depan. Kulihat sebuah masjid berdiri kokoh di situ.
“Allah Akbar…”ucapan takbir itu terlepas begitu saja dari bibirku. Tanpa terasa air mataku jatuh menetes.
“Ya Allah...betapa jauhnya aku dengan Mu selama ini, kenapa semua mesti terjadi saat aku seperti ini?” aku terus bertanya –tanya dalam hati.
Tiba-tiba terbesit di benakku untuk menginjakkan kaki ke rumah Tuhan(masjid). Yang selama ini belum pernah aku injak semenjak aku bekerja di Hong Kong selama hampir tiga tahun. Baru aku sadari, kalau ternyata hatiku begitu hampa. Aku rindu akan suara Adzan , yang biasanya aku dengar begitu merdu waktu aku masih di kampung halamanku.
“Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar…” tiba-tiba suara adzan terdengar dari arah masjid. Aku terhenyak, dan tanpa ragu aku bergegas memenuhi panggilan untuk sholat. Aku luapkan semua perasaanku. Alangkah indahnya, ternyata aku masih bisa sholat berjama’ah meski di negeri orang. Aku terus berdo’a mudah-mudahan Allah menunjukkan keajaibannya padaku. Di dalam masjid yang cukup besar itu pula, aku bertemu dengan saudara-saudaraku senasib sepenanggungan. Kulihat mereka dengan merdu membaca ayat-ayat suci Al-qur’an. Hatiku yang semula kering kerontang, seakan kembali basah oleh siraman air hujan.
”Ya Allah...betapa damainya hatiku saat ini,” gumamku dalam hati. Sejak itu aku lebih memasrahkan diri pada yang kuasa. Karena apapun yang terjadi adalah atas kehendak Nya. Setelah aku merasa tenang, aku pulang. Kali ini beban di hatiku terasa sangat ringan. Tidak seperti sebelumnya.
******
Minggu pagi kedua majikanku mengantarku ke Agen, dengan mengendarai sebuah mobil pribadi.
“Ale…”majikanku memanggilku seraya menyodorkan selembaran kertas.
“Nyonya, apa ini?”aku bertanya penasaran. Tapi majikanku tidak menjawab, dan menyuruhku untuk memebaca sendiri. Mataku langsung terbelalak, tak percaya pada apa yang aku lihat. Ternyata majikanku merubah alasan, kenapa aku diterminite. Mereka menulis, bahwa mereka sudah tidak butuh pembantu lagi, karena akan pindah ke Singapura.
“Semalam Grace dan Janet yang punya ide, agar kamu lebih mudah untuk mencari majikan lagi,” majikanku menjelaskan sambil tersenyum.
“Terimakasih Nyonya,” ucapku kegirangan karna saking bahagianya.
“Ya Allah, Engkau benar-benar telah menunjukkan keajaibanMu,”aku bicara sendiri dalam hati. Tak henti-hentinyna aku mengucap syukur. Hatiku langsung sumringah.
Setelah urusan dengan agen beres, majikanku pergi meninggalkanku. Lagi-lagi ada sebuah kejutan. Sesampai di Agen langsung ada majikan yang mencari pembantu. Tapi dengan catatan harus bisa bahasa Inggris. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Enam hari mendekam di Agen, aku langsung interview dengan calon majikanku. Ternyata Agen ku sendiri juga tidak mempermasalahkan jariku .
“Ya Allah…seperti apakah calon majikan yang akan melamarku nanti.Galakkah,baikkah,cerewetkah dan…” pertanyaan itu terus menari-nari di otaku.
******
Ternyata calon majikanku sangatlah simple, tidak neko-neko. Biarpun menjaga 3 anak kecil, aku terpaksa menerima. Karena aku juga tidak punya pilihan lain. Selang beberapa hari, aku mulai bekerja di rumah majikanku yang baru.
“Cece, ini kamarmu.”celetuk Kevin, anak majikanku yang paling kecil.
“OK, thank you…”mataku terbelalak, karena kamar yang disediakan untukku cukup besar.Tidak seperti waktu di rumah majikanku yang barusan aku tinggalkan. Tidur saja harus di ruang tamu, dan sangat sumpek. Kali ini cukup besar, ber AC dan lengkap dengan rak bukunya.
“Berarti aku bisa sholat dalam kamar nih,”gumamku dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memberanikan diri untuk bicara dengan majikanku, kalau aku seorang muslim dan mempunyai kewajiban sholat lima waktu.
Karena aku tidak ingin mencuri-curi waktu untuk sholat dan membuat majikan memasang wajah murka kepadaku. Aku pikir berterus terang itu lebih baik.
Malam hari saat makan malam bersama, aku beranikan diri untuk mulai bicara dengan majikan perempuanku.
“Maaf, Nyonya. Saya seorang muslim. Dan orang muslim diharuskan sholat. Nyonya mengijinkan saya untuk sholat atau tidak,” aku bicara meski dengan nada patah-patah.
Semua manusia yang ada di meja makan tersebut, diam seribu bahasa. Sepertinya mereka sedang berpikir. Terlebih majikan perempuanku. Cukup lama mereka diam. Aku jadi salah tingkah sendiri.
“Cece, kamu harus sholat berapa kali sehari?” tanya majikan perempuanku.
“Lima kali, Nyonya. Tapi cuma sebentar. Saya jamin tidak akan mengganggu aktivitas kerja saya, Nyonya,” aku mencoba meyakinkan majiikanku. Aku hanya pasrah saja waktu itu. Mereka kembali diam.
“Cece,” panggil majikan perempuan.
“I..iya, Nyonya,” aku terlihat gugup. Tiba-tiba majikan perempuanku mengerutkan dahi.
Aku semakin kuatir saja. Takut mereka marah dan beranggapan kalau aku terlalu banyak meminta dan menuntut. Maklum saja, mayoritas orang Hong Kong tidak suka kalau rumahnya dipakai beribadah oleh penganut agama lain. Majikan sendiri dan anak-anaknya beragama Kristen. Dan mereka tergolong rajin berangkat ke Gereja setiap Minggu. Sedangkan majikan laki-laki ku tidak beragama dan sama sekali tidak mengenal Tuhan.
“Cece,” lagi-lagi suara majikan perempuan ku mengagetkan aku.
“Kalau kamu memang harus sholat, ya sholat saja,” ujar majikanku sambil tersenyum.
“ Sungguh, Nyonya,” aku benar-benar terharu mendengar jawaban itu dari majikan ku.
Dari situ aku mulai berpikir. Mungkin inilah hikmah yang aku dapat, setelah aku diterminit gara-gara benjolan kecil di jariku alias kutil. Ternyata Tuhan benar-benar Maha adil.
Keterangan:
Pou dhong : masak soup dalam waktu lama, kira-kira dua jam.
Cece : Panggilan mbak di Hong Kong
Diterminit : Dipecat
Hong Kong, 5 Oktober 2007
Biodata singkat penulis :
Nama lengkap: Aliyah Purwati ( Zando Aurelia – nama pena ). Tempat dan tanggal lahir: Rembang, 6 February 1983.
Bekerja di Hong Kong sebagai Buruh Migran Indonesia selama hampir 6 tahun.
E mail : ryzanurhadi@yahoo.com HP: (+852) 96079015.
Pengalaman menulis:
Salah satu cerpen saya dibukukan bersama 12 penulis lain dalam buku KUMCER Nyanyian Imigran. Satu puisi saya dimuat dalam buku puisi antologi Munir yang terbit tahun 2005. Salah satu puisi saya dimuat dalam buku puisi antologi untuk Jogja yang terbit tahun 2006.
Waktu SMA kelas III, tulisan saya yang berjudul “ KEBHINNEKAAN INDONESIA DALAM TANTANGAN DAN HARAPAN”, masuk enam besar dalam sayembara mengarang yang diadakan oleh DEPDIKNAS Jakarta. Dan dalam presentasi serta forum diskusi menduduki juara III se-Indonesia tingkat pelajar SLTA tahun 1999.
Tidak seperti biasanya juga, menu masakanku sore itu lebih banyak. Maklum saja saudara-saudara majikan perempuanku mau datang dan makan bersama. Kalau hari-hari biasa, paling aku hanya memasak dua macam lauk dan sup. Tapi kali ini aku harus memasak lima macam lauk beserta pou dhong. Majikanku sendiri telah belanja siang tadi. Dan setiap hari memang dia sendiri yang ke pasar belanja. Karena dia memang tidak bekerja. Jadi kerjaannya hanya di rumah mengurus anak. Majikanku mempunyai dua anak kembar perempuan berumur sembilan tahun. Namanya Grace Lam dan Janet Lam. Keduanya sangat lucu, cantik, pintar dan sopan. Kontan saja aku sangat betah bekerja di situ. Majikanku pun tergolong tidak cerewet dan tidak bawel. Hanya saja sayangnya, aku tidak diijinkan untuk beribadah sholat. Tapi aku sendiri menyadari, namanya manusia tidak ada yang sempurna. Ada majikan yang cerewet, tapi mengijinkan pembantunya beribadah sholat. Dan begitu juga sebaliknya.
Udara makin panas. Sekitar setengah lima sore aku mulai merendam sayur, mencuci ikan, daging serta pou dhong apel, jagung dan wortel kesukaan majikanku. Aku bekerja supercepat, dan mungkin seperti mesin, karena kuatir kerjaanku tidak beres. Bagaimana tidak, seterikaanku di ruang tengah juga masih numpuk belum tersentuh sama sekali.
Aku masih asyik memotong daging babi. Keringat terus mengucur deras dari tubuhku.
“Aauwww…” aku menjerit seketika, seraya darah segar keluar dari jemariku. Aku pun segera menghentikan aktivitas memotong daging.
“Ale, kenapa tangan kamu?” suara majikanku benar-benar mengagetkan aku. Rupanya sudah dari tadi majikanku berdiri di belakangku tanpa sepengetahuanku.
“Oh, tidak apa-apa Nyonya. Hanya luka kecil saja kok, nanti juga sembuh dengan sendirinya,” aku mencoba meyakinkan majikanku bahwa luka yang kualami bukanlah luka yang serius. Tak lama kemudian, majikanku pun menyuruhku keluar dari dapur dan segera mengobati lukaku.
“Ale, kenapa di jarimu ada benjolan seperti ini?” Majikanku bertanya sambil mengerutkan dahi. Dari raut wajahnya, nampak sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan luka di jariku. Dia menganggap luka di jariku adalah luka yang sangat serius. Nada pertanyaannya seperti seorang Polisi yang melakukan penyelidikan saja. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Ada perasaan khawatir juga melihat mimik wajah sang majikanku seperti itu. Pikiran tidak enak mulai menggelayuti pikiranku, menari-nari dalam otakku. Membuatku semakin resah dan gelisah. Aku pun jadi salah tingkah di depan perempuan yang memberiku dollar setiap bulan itu.
“Ale?” panggilan majikanku kembali mengagetkan aku.
“I…iya Nyonya,” aku menjawab dengan gugup.
“Kenapa di jarimu ada benjolan seperti ini?” majikanku bertanya lagi. Kali ini dengan nada sangat penasaran. Aku terdiam sejenak. Hingga akhirnya aku beranikan untuk bicara yang sesungguhnya pada majikanku.
“Oh… ini hanya luka biasa kok Nyonya. Kalau orang Indonesia menyebutnya kutil. Namun tidak berbahaya kok Nyonya. Nanti akan sembuh dengan sendirinya,” lagi-lagi aku meyakinkan majikanku. Ya, benjolan yang ada di jariku memang kutil. Begitu orang Jawa menyebutnya. Jika kutil menempel di jari kita, memang terasa keras. Warnanya putih dan agak-agak transparan. Jika terluka, maka kutil itu akan pecah dengan sendirinya dan mengeluarkan darah. Setidaknya, itulah yang aku alami.
Lama aku dan majikanku terdiam. Aku melihat dahi majikan perempuanku semakin berkerut. Ia kembali diam.
“Ale…sepertinya ada yang tidak wajar dengan benjolan di jarimu. Besok pagi kita ke dokter untuk memeriksakan tanganmu itu,” kata majikanku serius.
Lagi-lagi majikanku terdiam. Aku semakin panik dalam hati. Karena majikanku benar-benar menganggap kutil di jariku adalah sesuatu yang serius. Ya, begitulah orang Hong Kong. Mereka mudah sekali panik dengan gejala penyakit sekecil apapun. Jika anak kesayangannya saja sudah mulai bersin-bersin, ia langsung membawanya ke dokter.
Apalagi ia yang melihat tanganku luka dan berdarah.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku di dapur. Aku tak tenang. Tiba-tiba saja aku selalu berpikir. Kalau-kalau majikanku menganggap luka sepele alias kutil di jariku adalah penyakit menular, dan akhirnya majikanku memecat aku sebagai pembantu rumah tangga. Ah, matilah aku. Aku hanya bisa pasrah sambil menghibur diriku sendiri.
******
Keesokan harinya, majikanku menepati janji. Pagi itu sekitar jam sepuluh, majikanku mengantarku ke dokter, yang letaknya tidak jauh dari rumah di mana aku bekerja.
Aku menarik nafas lega, karena ternyata tidak begitu banyak pasien yang hendak berobat, sehingga aku tidak perlu lama-lama antri. Aku hanya menunggu 2 orang pasien saja. Keduanya orang Hong Kong. Tak lama kemudian, salah seorang suster di Klinik itu memanggil namaku. Akupun segera masuk ke ruang dokter untuk periksa. Aku tersenyum pada majikanku. Majikanku membalas senyumanku dengan manis.
Setelah kira-kira 10 menit dokter memeriksa tanganku, aku segera keluar dari ruangan itu. Aku tidak menemukan ada gejala aneh pada dokter saat memeriksa tanganku. Semuanya biasa-biasa saja. Setidaknya membuatku sedikit lega. Aku kembali duduk di lobby, kembali bersebelahan dengan majikanku.
Namun tak lama kemudian, tiba-tiba dokter yang memeriksa aku memanggil majikanku. Majikanku pun masuk ke ruang periksa menemui dokter.
“Ada apa ya?” seribu pertanyaan terus menari dalam otakku. Sungguh membuat aku gelisah. Duduk pun tak tenang. Tubuhku terus saja bergeser ke kanan dan ke kiri. Kedua tanganku pun terus bergerak meremas-remas. Aku benar-benar resah.
Beberapa saat kemudian, majikanku keluar. Aku menemukan ada yang aneh pada diri majikanku, setelah ia keluar dari ruangan dokter.
******
“Ale, ayo kita pulang,” ajak majikanku.
Aku tidak bisa menahan diri. Aku langsung melemparkan pertanyaan pada majikanku.
“Nyonya, dokter tadi bilang apa? Apakah berhubungan dengan benjolan di jariku?”
Aku membrondong majikanku dengan berbagai pertanyaan. Aku makin tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiranku.
“Nanti saja kalau sudah sampai di rumah aku jelaskan,” jawaban majikanku membuat jantungku serasa mau copot. Aku langsung bisa menebak pasti ada yang tidak beres.
Beberapa menit kemudian, aku dan majikanku pun sampai di rumah. Aku sudah tidak sabar ingin tahu hal yang sebenarnya. Aku melihat wajah majikanku pun mulai menggambarkan suatu kecemasan. Kami sama-sama diam sejenak. Hingga akhirnya, majikanku membuka pembicaraan.
“Ale?” majikanku memanggilku pelan.
“ Aku tahu kamu suka bekerja di sini. Aku juga sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. Tapi begini…” tiba-tiba majikankiu berhenti bicara. Jantungku berdegup kencang. Aku semakin yakin bahwa sesuatu hal buruk bakalan terjadi. Aku bisa menebak dari kata-kata serta cara bicara majikanku.
“Tapi apa Nyonya? Cepat bicaralah. Ada apa sebenarnya?” tak terasa tanganku mengoyak-oyak tangan dan badan majikanku.
“Ehm...dokter bilang, kalau benjolan di jarimu tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Karena kalau nanti membesar sedikit saja, akan mengeluarkan darah. Dan itu sangat berbahaya, bahkan mungkin bisa menular,” kata majikanku panjang lebar.
“Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin…” hatiku serasa disambar petir mendengar kata-kata itu. Dari nada omongannya, aku bisa menebak arah pembicaraan majikanku selanjutnya. Tanpa sadar, hujan air mata membasahi pipiku. Majikanku sempat menenangkan dan menepuk pundakku, ketika mengatakan bahwa aku harus pergi dan berhenti bekerja. Aku benar-benar tidak menyangka, kalau hal sekecil itu bisa menjadi besar. Aku juga tak mengerti, kenapa semua terjadi ketika aku sedang senang-senangnya bekerja di situ. Baru sembilan bulan aku bekerja di situ dan uang limaribu Dollar Hong Kong pun telah melayang ke tangan Agen saat aku renew kontrak.
“Ya Tuhan…aku diterminit.Aku harus mulai dari nol lagi. Bagaimana caranya agar aku mendapat majikan, sedangkan perpanjangan visaku hanya dua minggu. Kalau pun dapat, aku harus kerja bakti lagi untuk Agen untuk kontrak kerja baruku. Kalau misalkan tidak dapat majikan, aku harus pulang ke kampung halamanku. Apa yang aku bawa. Sementara hasil kerjaku 2 tahun telah aku kirimkan unntuk orang tua ku semua. Bagaimana masa depanku nanti?” seribu pertanyaan itu selalu menghantui pikiranku dan menyesakkan dadaku.
Keesokan harinya, aku bekerja seperti biasa. Walaupun ada rasa sangat tidak enak dalam hatiku. Namun aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.
“ Ale,” suara majikanku lirih memanggilku.
“ Selamat pagi, Nyonya,” sapaku pada sang majikan.
“ Pagi juga, Ale. Hari ini kamu boleh libur,” perintah majikanku.
“Tapi hari ini Jum’at, Nyonya,” jawabku. Tapi majikanku tetap ngengkel menyuruh aku libur agar mulai bisa mencari majikan di Agen. Aku nurut saja pada majikanku, karena aku memang tidak mempunyai waktu banyak. Dalam hatiku bertanya-tanya, kok majikanku memberiku libur pas hari Jum’at. Aku sempat tertegun dan ingat karena uang gaji bulan kemarin sudah aku kirim semua. Di dompetku hanya tersisa dua puluh dollar saja, tapi aku pun tetap nekad libur ke Agen.
******
“Ale, bagaimana dengan benjolan di jarimu?” tanya Mami (yang punya Agen) padaku. Tanpa menjawab, aku langsung menunjukkan jari tanganku pada Mami.
“Oh my God,” mata Mami melotot seraya keheranan.
“Cuma sepele seperti ini, kamu diterminate?” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum, tanpa banyak komentar. Karena aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Namun nasib baik pun belum juga berpihak padaku. Ternyata Agen ku lagi sepi majikan yang mencari pembantu. Sore hari aku pulang dengan perasaan hampa.
”Krukuk ..krukuk..” tiba-tiba perutku bunyi. Namun aku hanya bisa menahan lapar, karena di dompetku hanya tersisa uang duabelas dollar untuk ongkos pulang. Aku serasa menangis batin dalam keadaan seperti itu. Ketika sampai di depan MTR Tsim Sha Tsui Exit B, yang letaknya tak jauh dari Agenku. Aku tertegun dan menghela nafas dalam-dalam, ketika mataku menatap lepas ke depan. Kulihat sebuah masjid berdiri kokoh di situ.
“Allah Akbar…”ucapan takbir itu terlepas begitu saja dari bibirku. Tanpa terasa air mataku jatuh menetes.
“Ya Allah...betapa jauhnya aku dengan Mu selama ini, kenapa semua mesti terjadi saat aku seperti ini?” aku terus bertanya –tanya dalam hati.
Tiba-tiba terbesit di benakku untuk menginjakkan kaki ke rumah Tuhan(masjid). Yang selama ini belum pernah aku injak semenjak aku bekerja di Hong Kong selama hampir tiga tahun. Baru aku sadari, kalau ternyata hatiku begitu hampa. Aku rindu akan suara Adzan , yang biasanya aku dengar begitu merdu waktu aku masih di kampung halamanku.
“Allah akbar, Allah akbar, Allah akbar…” tiba-tiba suara adzan terdengar dari arah masjid. Aku terhenyak, dan tanpa ragu aku bergegas memenuhi panggilan untuk sholat. Aku luapkan semua perasaanku. Alangkah indahnya, ternyata aku masih bisa sholat berjama’ah meski di negeri orang. Aku terus berdo’a mudah-mudahan Allah menunjukkan keajaibannya padaku. Di dalam masjid yang cukup besar itu pula, aku bertemu dengan saudara-saudaraku senasib sepenanggungan. Kulihat mereka dengan merdu membaca ayat-ayat suci Al-qur’an. Hatiku yang semula kering kerontang, seakan kembali basah oleh siraman air hujan.
”Ya Allah...betapa damainya hatiku saat ini,” gumamku dalam hati. Sejak itu aku lebih memasrahkan diri pada yang kuasa. Karena apapun yang terjadi adalah atas kehendak Nya. Setelah aku merasa tenang, aku pulang. Kali ini beban di hatiku terasa sangat ringan. Tidak seperti sebelumnya.
******
Minggu pagi kedua majikanku mengantarku ke Agen, dengan mengendarai sebuah mobil pribadi.
“Ale…”majikanku memanggilku seraya menyodorkan selembaran kertas.
“Nyonya, apa ini?”aku bertanya penasaran. Tapi majikanku tidak menjawab, dan menyuruhku untuk memebaca sendiri. Mataku langsung terbelalak, tak percaya pada apa yang aku lihat. Ternyata majikanku merubah alasan, kenapa aku diterminite. Mereka menulis, bahwa mereka sudah tidak butuh pembantu lagi, karena akan pindah ke Singapura.
“Semalam Grace dan Janet yang punya ide, agar kamu lebih mudah untuk mencari majikan lagi,” majikanku menjelaskan sambil tersenyum.
“Terimakasih Nyonya,” ucapku kegirangan karna saking bahagianya.
“Ya Allah, Engkau benar-benar telah menunjukkan keajaibanMu,”aku bicara sendiri dalam hati. Tak henti-hentinyna aku mengucap syukur. Hatiku langsung sumringah.
Setelah urusan dengan agen beres, majikanku pergi meninggalkanku. Lagi-lagi ada sebuah kejutan. Sesampai di Agen langsung ada majikan yang mencari pembantu. Tapi dengan catatan harus bisa bahasa Inggris. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Enam hari mendekam di Agen, aku langsung interview dengan calon majikanku. Ternyata Agen ku sendiri juga tidak mempermasalahkan jariku .
“Ya Allah…seperti apakah calon majikan yang akan melamarku nanti.Galakkah,baikkah,cerewetkah dan…” pertanyaan itu terus menari-nari di otaku.
******
Ternyata calon majikanku sangatlah simple, tidak neko-neko. Biarpun menjaga 3 anak kecil, aku terpaksa menerima. Karena aku juga tidak punya pilihan lain. Selang beberapa hari, aku mulai bekerja di rumah majikanku yang baru.
“Cece, ini kamarmu.”celetuk Kevin, anak majikanku yang paling kecil.
“OK, thank you…”mataku terbelalak, karena kamar yang disediakan untukku cukup besar.Tidak seperti waktu di rumah majikanku yang barusan aku tinggalkan. Tidur saja harus di ruang tamu, dan sangat sumpek. Kali ini cukup besar, ber AC dan lengkap dengan rak bukunya.
“Berarti aku bisa sholat dalam kamar nih,”gumamku dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memberanikan diri untuk bicara dengan majikanku, kalau aku seorang muslim dan mempunyai kewajiban sholat lima waktu.
Karena aku tidak ingin mencuri-curi waktu untuk sholat dan membuat majikan memasang wajah murka kepadaku. Aku pikir berterus terang itu lebih baik.
Malam hari saat makan malam bersama, aku beranikan diri untuk mulai bicara dengan majikan perempuanku.
“Maaf, Nyonya. Saya seorang muslim. Dan orang muslim diharuskan sholat. Nyonya mengijinkan saya untuk sholat atau tidak,” aku bicara meski dengan nada patah-patah.
Semua manusia yang ada di meja makan tersebut, diam seribu bahasa. Sepertinya mereka sedang berpikir. Terlebih majikan perempuanku. Cukup lama mereka diam. Aku jadi salah tingkah sendiri.
“Cece, kamu harus sholat berapa kali sehari?” tanya majikan perempuanku.
“Lima kali, Nyonya. Tapi cuma sebentar. Saya jamin tidak akan mengganggu aktivitas kerja saya, Nyonya,” aku mencoba meyakinkan majiikanku. Aku hanya pasrah saja waktu itu. Mereka kembali diam.
“Cece,” panggil majikan perempuan.
“I..iya, Nyonya,” aku terlihat gugup. Tiba-tiba majikan perempuanku mengerutkan dahi.
Aku semakin kuatir saja. Takut mereka marah dan beranggapan kalau aku terlalu banyak meminta dan menuntut. Maklum saja, mayoritas orang Hong Kong tidak suka kalau rumahnya dipakai beribadah oleh penganut agama lain. Majikan sendiri dan anak-anaknya beragama Kristen. Dan mereka tergolong rajin berangkat ke Gereja setiap Minggu. Sedangkan majikan laki-laki ku tidak beragama dan sama sekali tidak mengenal Tuhan.
“Cece,” lagi-lagi suara majikan perempuan ku mengagetkan aku.
“Kalau kamu memang harus sholat, ya sholat saja,” ujar majikanku sambil tersenyum.
“ Sungguh, Nyonya,” aku benar-benar terharu mendengar jawaban itu dari majikan ku.
Dari situ aku mulai berpikir. Mungkin inilah hikmah yang aku dapat, setelah aku diterminit gara-gara benjolan kecil di jariku alias kutil. Ternyata Tuhan benar-benar Maha adil.
Keterangan:
Pou dhong : masak soup dalam waktu lama, kira-kira dua jam.
Cece : Panggilan mbak di Hong Kong
Diterminit : Dipecat
Hong Kong, 5 Oktober 2007
Biodata singkat penulis :
Nama lengkap: Aliyah Purwati ( Zando Aurelia – nama pena ). Tempat dan tanggal lahir: Rembang, 6 February 1983.
Bekerja di Hong Kong sebagai Buruh Migran Indonesia selama hampir 6 tahun.
E mail : ryzanurhadi@yahoo.com HP: (+852) 96079015.
Pengalaman menulis:
Salah satu cerpen saya dibukukan bersama 12 penulis lain dalam buku KUMCER Nyanyian Imigran. Satu puisi saya dimuat dalam buku puisi antologi Munir yang terbit tahun 2005. Salah satu puisi saya dimuat dalam buku puisi antologi untuk Jogja yang terbit tahun 2006.
Waktu SMA kelas III, tulisan saya yang berjudul “ KEBHINNEKAAN INDONESIA DALAM TANTANGAN DAN HARAPAN”, masuk enam besar dalam sayembara mengarang yang diadakan oleh DEPDIKNAS Jakarta. Dan dalam presentasi serta forum diskusi menduduki juara III se-Indonesia tingkat pelajar SLTA tahun 1999.
Jejak lelaki di negeri Sakura
Ke mana arah mata angin
Saat fajar menyeret
Mengintai pagi
Berganti hari
Seorang laki-laki gagah berambut panjang
Melangkah renta
Bersama gitar tuanya
Melantunkan bait-bait lagu
Tiga tahun di negeri sakura
Berjuta warna pelangi terpancar
Di balik matanya yang sayu
Dia mencoba sembunyi
Berharap mampu menepikan diri
Seakan enggan dia tinggalkan
Saat-saat indah
Musim sakura tiba
Bersama tiupan angin
Mengembara
Menyapu kota tua
Hening kian larut
Waktu tlah menjemput
Dengan segenggam asa
Dia melangkah
Sembari berucap
“Negeri sakura, aku pergi!”
Hong Kong, 25 Jully 2006
This poem is belong to someone
Saat fajar menyeret
Mengintai pagi
Berganti hari
Seorang laki-laki gagah berambut panjang
Melangkah renta
Bersama gitar tuanya
Melantunkan bait-bait lagu
Tiga tahun di negeri sakura
Berjuta warna pelangi terpancar
Di balik matanya yang sayu
Dia mencoba sembunyi
Berharap mampu menepikan diri
Seakan enggan dia tinggalkan
Saat-saat indah
Musim sakura tiba
Bersama tiupan angin
Mengembara
Menyapu kota tua
Hening kian larut
Waktu tlah menjemput
Dengan segenggam asa
Dia melangkah
Sembari berucap
“Negeri sakura, aku pergi!”
Hong Kong, 25 Jully 2006
This poem is belong to someone
Subscribe to:
Posts (Atom)