Friday, October 19, 2007

Resmi Sulistyawati terpilih sebagai Putri Kartini 2007




Setelah melalui proses penjurian yang cukup ketat, akhirnya Resmi Sulistyawati ( BMI asal Kendal ) terpilih sebagai Putri Kartini Sanggar Budaya 2007, dalam acara Fashion Show yang digelar oleh Sanggar Budaya, pada Minggu(29/4) di Ho Tung School, Causeway Bay.

Selain dinobatkan sebagai Putri Kartini 2007, Resmi juga menyabet Juara I favorit untuk kategori busana tradisional.Sedangkan Juara II , III masing-masing diraih oleh Wanti Rahayu dan Kristin.
Resmi sendiri tidak menyangka kalau dirinya akan terpilih sebagai Putri Kartini.
“Semua peserta cantik-cantik dan kostum mereka juga sangat bagus,” ujarnya.

Saat dimintai komentar tentang peringatan hari Kartini, perempuan yang tinggal di Tze Wan Shan itu mengungkapkan bahwa untuk memperingati hari Kartini tidak cukup hanya dengan berpakaian ala Kartini saja.”Yang penting kita sebagai perempuan, sebisa mungkin meneruskan perjuangan Kartini,” ungkapnya.

Sementara itu, Konsul Muda Penerangan Sosial Budaya KJRI Heni Hamidah yang juga bertindak sebagai Dewan Juri mengungkapkan, bahwa tahun ini memang terjadi peningkatkan jumlah peserta lomba.
“Jumlah peserta tahun ini memang meningkat, dan kostum yang mereka pakai juga sangat bagus,” ungkap Heni saat ditemui usai acara.

Namun menurut Heni bukan hanya penampilan serta kostum saja yang menjadi penilaian, tapi pengetahuan serta wawasan peserta juga menjadi pertimbangan.
“Tahun depan saya akan prioritaskan untuk memberi pertanyaan kepada peserta seputar ketenagakerjaan, karena ini sangat penting,” paparnya.
Heni menyayangkan ada beberapa peserta yang tidak bisa menjawab pertanyaan seputar hukum perburuhan di Hong Kong.

Pemenang fashion show kategori busana muslim, masing-masing diraih Trismi, Darti Tarmijan dan Sari.Untuk kategori busana kasual masing-masing pemenangnya adalah Metty, Utami serta Anita.

Aliyah Purwati



Jauh-jauh ke Hong Kong hanya jadi tukang pikul


Mirna( 30) bukan nama sebenarnya ,buruh migrant Indonesia asal Blitar ,sama sekali tidak menyangka kalau ternyata ia akan dipekerjakan sebagai petani dan pedagang oleh majikannya di Hong Kong.

Ia tinggal bersama seorang nenek di kawasan Cheung Shue Tan Tsuen,Tai Po .Setiap hari ia mesti pergi ke ladang untuk memetik bunga,mencari daun pisang dan tebu dan juga menggergaji kayu dan memotong tebu-tebu tersebut.Lalu dilanjutkan dengan menjual hasil ladang itu ke pasar Tai Po dengan cara dipikul.Ia menjajakan dagangan itu besama majikannya.

Mirna mengaku majikannya seorang nenek berusia 70-an sangat cerewet dan berperilaku kasar.”Saya kerja nggak ada benarnya,pada hal saya hanya diam saja walaupun dipekerjakan seperti itu,” kisahnya kepada SUARA di secretariat Indonesian Migrant Workers Union ( IMWU ), beberapa waktu lalu.

Mirna yang setiap bulannya hanya menerima gaji HK$ 2000 itu mengatakan bahwa dia juga harus membantu bersih-bersih rumah anak majikan,yang letaknya bersebelahan dengan rumah ia bekerja.

Padahal dalam kontrak kerjanya tercatat,ia hanya membersihkan rumah dan merawat seorang anak .” Kondisi kerja saya jauh lebih parah dari pada keadaan saya di Indonesia,”ujar perempuan yang mengaku diberangkatkan oleh PT.Hikmah Surya Jaya ,Surabaya ini.

Awalnya,Mirna tak tahu tentang hukum perburuhan di Hong Kong bahwa tak boleh ada pelanggaran jenis pekerjaan dan kontrak yang disepakati.Ia mengetahui hal ini setelah bekerja 10 bulan.Namun ia belum berani mengajukan protes ke majikannya soal pelanggaran kontrak itu.

Tapi setelah empat bulan terakhir MIrna disuruh mencangkul di ladang tiap hari ,hingga kecapekan dan mengalami patah tulang belakang,ia pun memutuskan kabur pada 11 February lalu.

Sejauh ini,Mirna telah smendapatkan bukti untuk menuntut majikan,berupa foto dan catatan harian mengenai gaji serta hari libur yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
Hingga saat ini ,ribuan Buruh Migrant Indonesia ( BMI ) ynag bekerja di Hong Kong masih belum mendapatkan hak-haknya.

Aliyah Purwati

Dwi Rupi Atmini pimpin PDV




Dwi Rupiatmini terpilih menjadi Ketua Persatuan Da’wah Victori(PDV) untuk masa jabatan satu tahun periode 2007-2008 dalam pemilihan yang digelar pada Minggu(1/4) di Victoria Park.Buruh Migran asal Ngawi, Jawa Timur yang aktif di Majelis dzikir Ilham ini meraih 13 suara dari 35 suara yang ada.

Posisi berikutnya ditempati Indawati dari Ad Darojah dengan mengumpulkan 12 suara.
Tiga kandidat lainnya ,Arti(Az Zahro), Saminah ( Capto Almasitoh ),dan Retno ( Siti Arofah ) masing-masing memperoleh enam suara, tiga suara dan satu suara.Peraih suara terbanyak kedua juga secara otomatis menduduki jabatan sebagai wakil ketua.

PDV sendiri terdiri atas tujuh organisasi dan setiap organisasi mewakili lima suara, sehingga total jumlah suara yang ada sebanyak 35 suara.Selain pemilihan pengurus baru yang berlangsung lancar, laporan pengurus lama periode 2006-2007, juga berlangsung mulus saja.
PDV sendiri memiliki peraturan yang membatasi masa jabatan ketua hanya untuk satu tahun dan tidak diperkenankan untuk mencalonkan kembali di pemilihan berikutnya.

Usai pemilihan, Dwi mengungkapkan dirinya memfokuskan kegiatan PDV pada Ukhuwah Islamiyah, tidak terbatas antar anggota PDV dan organisasi Islam tetapi juga mencakup bidang ketenagakerjaan.”Kami ini termasuk bagian dari KOTKIHO ( Koalisi Organisasi Tenaga Kerja di Hong Kong-red) jadi kami juga berharap bisa menjadi wadah bagi teman-teman yang mempunyai masalah. Nanti akan kami lanjutkan ke KOTKIHO yang akan menindaklanjuti,” terang perempuan yang bekerja di Tai Koo Sing ini.

Eny Susanti pimpin YIC

Eny Susanti(BMI asal Malang) terpilih sebagai Ketua baru Yogyakarta International Club periode 2007-2008, dalam pemilihan yang berlangsung di kantor GIL North Point, pada Minggu(15/4).Dalam pemilihan sekaligus Anniversary YIC ke-8 tersebut, Eny berhasil mengumpulkan 20 suara. Sedangkan dua kandidat lain yaitu Tyas dan Sumaryanti masing-masing mendapatkan 4 dan 3 suara.Namun kedua kandidat lain tidak otomatis menduduki jabatan wakil ketua atau pun Sekretaris.Karena pemilihan pengurus lainnya akan dilakukan pada meeting selanjutnya.

Menariknya, pemberian suara dalam pemilihan tersebut bisa dilakukan melalui Short Message Service( SMS) bagi anggota yang berhalangan hadir.
“Ada 4 anggota yang memberikan suara melalui SMS, karena mereka benar-benar berhalangan menghadiri pemilihan,”terang Eny saat ditemui di kawasan Causeway Bay, Minggu(22/4) lalu.

Eny menjabat Ketua YIC menggantikan Sri Wulan Mawarsih yang saat ini menjabat Ketua KOTKIHO.Kepada SUARA, ia mengungkapkan bahwa untuk ke depannya YIC akan lebih serius dalam memberikan bekal kewirausahaan bagi anggotanya, sebagai bekal jika mereka sudah pulang ke Indonesia.
Beberapa usaha yang telah dilakukan YIC antara lain Bisnis rumah kos serta penyewaan mobil keluarga di Yogyakarta, rekontruksi bangunan dan usaha rumah kontrakan di Jakarta.Eny menambahkan saat ini YIC juga mengelola budidaya cabe rawit di Jember.
“Keluarga anggota YIC di Indonesia yang menangani dan anggota Jogja Club yang sudah pulang juga ikut memantau usaha tersebut,” ujar perempuan yang mengaku bergabung dengan YIC sejak tahun 2002 lalu.

YIC merupakan salah satu anggota Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong ( KOTKIHO) didirikan pada tanggal 31 January 1999, dan resmi dideklarasikan tanggal 4 April 1999.Saat ini mempunyai secretariat di Citra Grand Jakarta.

Aliyah Purwati

Seorang jemaat pingsan saat Syukuran ICA


Seorang jema’at pingsan dan puluhan lainnya larut dalam suasana histeris saat mengikuti khotbah dan do’a oleh pdt.Philip Mantofa dari Surabaya,dalam acara syukuran International Christian Assembly(ICA)di Queen Elisabeth Stadium,Minggu (21/1).

Kejadian berlangsung saat sang pendeta dalam menyampaikan khotbah,yang tampaknya benar-benar mampu mencuri perhatian jemaat yang hadir, dan dilanjutkan dengan do’a.Pada saat pembacaan do’a itulah tiba-tiba para jema’at menjadi sangat histeris dalam menghayati do’a dan bergerak mendekati panggung.Seorang jemaat kemudian terlihat menjerit dan kemudian tergeletak pingsan.

Selain khotbah,syukuran ICA kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan salah satu diva Indonesia Ruth Sahanaya bersama True Worshippers dari Jakarta ,yang membawakan lagu-lagu rohani.Tampil juga musik pembuka ICA,paduan suara serta tarian ICA.

Kepada SUARA panitia penyelenggara syukuran ICA 2007 ,Gembala ICA Pastor Jeanet Saren mengungkapkan bahwa antusias dan respon jemaat tahun ini memang luar biasa .
“Respon dan antusias jemaat tahun ini sangat meningkat ,paling tidak sesuai dengan target kita,”jelasnya.

Ia menambahkan,bahwa syukuran ICA merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan rahmad dan kasihNya.Syukuran ICA itu sendiri dilaksanakan setiap tahun.Tahun lalu dilaksanakan pada tanggal 15 Januari di tempat yang sama.

Peringati hari buruh, ribuan BMI turun jalan

Ribuan Buruh Migran Indonesia( BMI) turun ke jalan dalam aksi peringatan hari buruh Internasional, Selasa ( 1/5 ) lalu. Berbagai organisasi dan serikat BMI terlibat dalam aksi dan bergabung dengan organisasi dan serikat buruh local di Hong Kong.

Aksi dimulai dari lapangan Victoria Parks dan dilanjutkan dengan rally menuju gedung Central Government Office ( CGO ) di Central.
Sekitar 3000 orang terlibat dalam aksi ini yang merupakan perwakilan dari sejumlah organisasi di Hong Kong, antara lain Coalition for Migrants rights ( CMR ), Hong Kong Confederation of Trade Union ( HKCTU ), Asian Migrants Coordinating Body ( AMCB ), League of Social Democrats, Koalisi Organisasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong ( KOTKIHO ), Indonesian Migrants Workers union ( IMWU ) dan Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong ( ATKI-HK ).
Sebelum rally dimulai, dua panggung didirikan di lapangan Victoria Park untuk mengumpulkan massa. Satu panggung milik CMR dan KOTKIHO dan satu panggung lainnya digelar oleh HKCTU.

Dua duta BM, yakni Franky Sahilatua dan Nini Karlina, tampil di panggung CMR bersama dengan Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ( BNP2TKI ) Jumhur Hidayat.

Dalam pidatonya, Jumhur mengatakan dukungannya terhadap perjuangan BMI di Hong Kong untuk mendesak kenaikan upah sebesar HK$ 3860 per bulan dan pemangkasan biaya agen yang saat ini rata-rata mencapai HK$ 21.000. Ia juga meneriakkan slogan bersama massa : “Buruh berkuasa, rakyat sejahtera”.

Sementara Ketua CMR, Eny Yuniarti yang menjabat sebagai Ketua KOTKIHO mengatakan bahwa selain soal kenaikan upah, pihaknya juga mendesak agar pemerintah Hong Kong meninjau ulang kebijakan New Condotion of Stay ( NCS ) dan Two Week rule ( Aturan Dua Minggu ) yang dinilai diskriminatif terhadap buruh migrant.
Sementara organisasi dan serikat buruh local mendesak agar pemerintah Hong Kong secara tegas menetapkan standart upah minimum dan pembatasan jam kerja.

Hari perempuan sedunia, CMR datangi CGO


Ratusan Buruh Migrant yang tergabung dalam Coalition for Migrants Right ( CMR ) kembali melakukan aksi turun jalan dari Charter Garden menuju Central Government Office ( CGO ) ,pada hari Minggu ( 4/3),mendesak pemerintah Hong Kong mencabut sejumlah aturan diskriminatif dan memberi perhatian terhadap nasib buruh migrant.

Aksi tersebut dilakukan dalam rangka memperingati International Woman’s Day yang jatuh tanggal 8 Maret itu, menuntut Pemerintah Hong Kong menghapus Two-Week Rule ( aturan dua minggu),kebijakan New Condition of Stay ( NCS) yang juga diskriminatif ,menaikkan upah buruh dan bersikap tegas terhadap praktik underpayment.

Aturan dua minggu mengharuskan buruh migrant di sector rumah tangga untuk keluar dari Hong Kong dalam waktu dua minggu setelah masa kontrak kerjanya habis atau setelah di-terminate,jika dalam waktu tersebut mereka tak juga mendapat majikan baru.
Sementara NCS membuat buruh migrant tak bisa berganti pekerjaan ,tak bisa mendapat permanent residence meski tinggal lebih dari 20 tahun di Hong Kong,dan tak bisa membawa sanak keluarganya ,tinggal bersama di Hong Kong .

Dalam orasinya,Ketua CMR Eni Yuniarti dari Indonesian Migrant Workers Union ( IMWU ) mengatakan bahwa hampir 80 persen buruh migrant adalah perempuan.Eni menilai selama ini banyak terjadi diskriminasi serta penindasan terhadap kaum perempuan.
“Kita sebagai perempuan harus bersatu melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak kita sebagai buruh migrant,” serunya.

Di samping mendesak penghapusan kebijakan diskriminatif ,massa juga mendesak pemerintah untuk menaikkan gaji dari mereka HK3400 menjadi HK3860 dan meminta kepada pemerintah agar menghentikan praktik underpayment.
Sesuai hasil riset Asian Migrant Centre ( AMC ) tahun 2005 menunjukkan ,42 persen buruh migrant Indonesia di Hong Kong masih mengalami upah di bawah standart.

Aliyah Purwati